INOVASI PEMBELAJARAN SAINS BERBASIS ETNOPEDAGOGI
Abstract
Ilmu pengetahuan semakin lama semakin berkembang disebabkan berkembangnya pola pikir dan pola sikap manusia, diantara perkembangannya adalah dengan munculnya teori-teori baru dalam pembelajaran. Munculnya teori tersebut menjadikan strategi, metode maupun penerapan pembelajaran tidak lagi monoton seperti sebelumnya. Sebagai contoh, dalam pembelajaran sains khususnya peserta didik dibentuk agar mampu mengamati, merumuskan masalah, melakukan hipotesis, dan menemukan cara untuk menyelesaikan sebuah pennasalahan. Pembelajaran seperti ini akan lebih bermakna bagi peserta didik sehingga pengetahuan yang didapat akan lebih luas dan membekas. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana agar pembelajaran di sekolah menjadi lebih bermakna? Untuk menjawab pertanyaan inilah etnopedagogi berperan sangat penting dalam proses pembelajaran. Mengapa? Karena etnopedagogi adalah proses pembelajaran yang menjadikan budaya, kebiasan atau adat suatu wilayah sebagai sumber pembelajaran di kelas, atau dalam istilah lain dikatakan sebagai proses pembelajaran berbasis kearifan lokal. Sehingga jika siswa belajar dengan melihat budaya, lingkungan dan fakta yang ada disekitar, maka tentu pembelajaran akan Iebih mudah, bermakna, dan lebih menyenangkan. Kata kunci: etnopedagogi, inovasi pembelajaran, pembelajaran sains.References
Alexander, R. (2000). Culture and Pedagogy: International Comparisons in Primary Education. London: Blackwell.
Alwasilah, A. C., Suryadi, K., Karyono, T. (2009). Etnopedagogi: Landasan Praktek Pendidikan dan Pendidikan Guru. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Bernstein, B. (2004). Social Class and Pedagogic Practice. In SJ. Ball (Ed.), The Routledge Falmer Reader in Sociology ofEducation. London: Routledge.
Crawford, K & Adler, J. (1996). Teachers as Researchers in Mathematics Education. In A. J. Bishop, K., Clements, C., Keitel, J., Kilpatrick., & C. Laborde (Eds.), International Handbook of Mathematics Education (pp. 1187-1205). Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.
Fahmi, F. (2015). Miskonsepsi siswa SMA negeri Banjarmasin pada materi Ikatan Kimia. Jurnal Pendidikan, 2(4), 534-545.
Fahmi, F. (2016). Penggunaan zat pewarna pada kain sasirangan sebagai sumber belajar ilmu pengetahuan alam. Ethnopedagogy The Proceeding of International Seminar on Etnhopedagogy. FKIP Unlam Press.
Fung, C. (2002). The Efficacy of a Constructivist Approach to the Training of Chinese Mathematics Teachers. (Unpublished Master Thesis). Curtin University of Technology, Bentley, Perth.
Furqon. (2016). Pendekatan Pendidikan Berbudaya dan Membudayakan. Ethnopedagogy The Proceeding of International Seminar on Etnhopedagogy. Banjarmasin: FKIP Unlam Press.
Gunstone, R. (1995). Constructivism Leaming and the Teaching of Science. In B. Hand & V. Prain (Eds), Teaching and Learning in Science. The Constructivist Classroom (pp. 3-20). Sydney: Harcourt Brace.
Hoban, G.F. (1997). Theories and Models ofProfessional Development. In R. J. King, D. M. Hill & J. A. Retallick (Eds.), Exploring professional development in education. Riverwood, NSW: Social Science Press.
Lingard, B. (2010). Towards a Sociology of Pedagogies. Paper presented at 2nd International Seminar 2010 'Practice Pedagogic in Global Education Perspective'. PGSD UPI, Bandung (17 May, 2010).
McLeod, S.A. (2009). Jean Piaget. Retrieved 15 Februari 2016 from http://www.simplypsychology.org/piaget.html.
Stigler, W.S & Hiebert, J. (1999).The Teaching Gap: Best Ideas from the World' Teachers for Improving Education in the Classroom. New York: The Free Press.
Sutton, R.E., Cafarelli, A., Lund, R., Schurdell, D., & Bichsel, S. (1996). A Developmental Constructivist Approach to Pre-Service Teachers' Ways of Knowing. Teaching & Teacher Education. 12 (4), 413-427.
Von Glasersfeld, E. (1995). A Constructivist Approach to Teaching. In L.P. Steffe & J. Gale (Eds.), Constructivism in Education (pp.3-15). Hillsdale, N.J: Laurence Erlbaum.